KONSEP KOSMOLOGI DALAM PEMERINTAHAN KERAJAAN DI ASIA TENGGARA.

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

PENDAHULUAN

Asia Tenggara merupakan istilah yang muncul setelah Perang Dunia Kedua yang menggambarkan tentang wilayah yang terletak di daratan asia bagian timur yang terdiri dari jazirah Indo – China, pulau – pulau di Indonesia dan Fillipina. Para penulis Amerika menggunakan istilah standart “ Shoutheast” dan diikuti oleh Viktor Parcel dan E. H. G. Dobby.(Sejarah Asia Tenggara ,1987:3 ). Asia Tenggara sendiri merupakan kawasan yang sangat strategis sejak awal munculnya perdagangan lintas laut hingga saat ini. Ramainya jalur perdagangan yang terjadi di Asia Tenggara karena kawasan ini terletak diantara dua pusat kebudayaan dan perdagangaan yang terdiri dari China dan India.

Hubungan Asia Tenggara dengan India yang sangant erat sebenarnya telah berlangsung beratus – ratus tahun sebelum masehi. Bukti tentang adanya hubungan antara Asia Tenggara dengan India diungkapkan dalam karya sastra yang muncul pada Abad VI sebelum masehi. Kitab Ramayana menyebutkan tentang Suvarnadvipa dan Java Dvipa. Dalam karya sastra lain, Kitab Puranas dikenal pula Malayadvipa dan Yurandvipa. Nama – nama yang disebutkan dalam kedua kitap tersebut mengacu pada daerah yang terletak di Asia Tenggara.

Proses perdagangan yang terjadi mengakibatkan terjadinya kontak budaya dengan kedua pusat kebudayaan besar tersebut. Kontak budaya dengan India menghasilkan budaya yang menarik di Asia tenggara. Hal itu terjadi karena masuknya budaya India dan mengalami akulturasi dengan budaya local Asia tenggara. Masuknya budaya India ke Asia Tenggara sering di memiliki istilah Hindunisasi, namun istilah ini tak sepenuhnya dapat digunakan karena budaya yanga masuk bukan hanya Agama Hindu saja tapi juga agama Budha, kesenian, teknologi serta pemerintahan dan bentuk – bentuk kebudayaan India yang lain.

Salah satu bentuk Budaya yang masuk dan ditetapkan di Asia Tenggara adalah Konsep perintahan dan tata kerajaan. Hal ini semuanya berusaha diulas oleh penulis dengan judul “KONSEP KOSMOLOGI DALAM PEMERINTAHAN KERAJAAN DI ASIA TENGGARA”. Judul tersebut mengandung pembahasan tentang kedudukan raja, kerajaan, ibu kota, tempat ibadah dengan alam semesta.

PEMBAHASAN

Pengaruh budaya India terhadap masyarakat Asia Tenggara sangatlah besar terutama pada konsep Negara dan pemerintahan serta kedudukan raja. Pengaruh ini ditandai dengan berdirinya negara – negara Hindi Budha di wilayah Asia Tenggara. Konsep Negara sebagian besar merupakan wujud pengaruh India yang berusaha menyelaraskan hubungan antara Raja, Dewa dan Alam Semesta.

Perwujudan dari penyelarasan hubungan antara Raja, Dewa dan Alam Semesta diwujudkan dalam sebuah konsep Makrokosmos dan Mikrokosmos. Makrokosmo dan Mikrokosmos adalam kepercayaan tentang kesejajaran antara jagad raya dan dua manusia ( Robert Heine – Geldern, 1972:2 ). Ia tiba di Asia Tenggara melalui India dan Tiongkok, pengaruh tersebut berpengaruh besar terhadap pola pikir pada masyarakat masa itu. Berdasarkan kepercayaan itu dapat diartikan bahwa manusia dan energi –energi yang ada di bumi dipengaruhi oleh arah mata angin, bintang – bintang dan planet – planet. Kedudukan tersebut mengakibatkan energi – energi yang dapat menentukan dan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran suatu walayah kerajaan. Hubungan antara kedua hal tersebut juga menentukan kekuasaan seorang penguasa di suatu wilayah. Keselarasan antara kedua hal itu digunakan untuk menyusun keselarasan antara jagad raya dan kerajaan, penyelarasan itu berupa penataan kerajaan sebagai gambaran kecil dari jagad raya. Konsep penyelarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos di wujudkan dalam :

  1. Hubungan antra Negara dan Jagad Raya

Menurut doktrin – doktrin brahma jagad raya ini terdiri dari jambudvipa, sebuah benua lingkaran dan terletak di pusat dikelilingi oleh tujuh buah samudra berbetuk cincin dan tujuh buah benua lain berbentuk cincin juga. Di luar samudra terakhir dari ketujuh samudra tadi, jagad itu ditutup oleh barisan pegunungan yang sangat besar. Di tengah – tengah Jambudvipa Meru, Gunung kosmik yang diedari oleh Matahari, Bulan dan Bintang – Bintang. Di puncak nya terletak kota dewa – dewa yang dikelilingi pula oleh tempat tinggal dari lokapala atau dewa – dewa penjaga jagad. ( Robert Heine –Geldern, 1972 :5 )

Sedangkan menurut susunan Budhisme – pun, Gunung Meru menjadi pusat dari jagad raya. Gunung ini selanjutnya dikelilingi oleh tujuh barisan pegunungan, masing – masing dipisahkan oleh tujuh buah samudra yang berbentuk cincin. Di luar rantai pegunungan yang terakhir terletak lautan dan di dalam ini dijumpai empat buah benua, masing – masing pada penjuru mata angin. Benua yang terletak pada selatan Gunung Meru adalah jambudvipa, tempat tinggal umat manusia. Jagad raya itupun dikelilingi oleh sebuah dinding besar yang terdiri dari batu – batu karang, disebut cakrawala. Pada lereng Gunung Meru terletak swarga yang terendah, yaitu swarga dari keempar Raja Besar atau penjaga – penjaga dunia, pada puncaknya swarga kedua , yaitu swarga ketigapuluh tiga dewa serta Sudarsana, kota dewa – dewa, tempat Indera bersemayam sebagai raja. Di atas Gunung Meru memuncak ke atas lapisan – lapisan lainnya dari kayangan . ( Robert Heine –Geldern, 1972 :5 )

Dari gambaran tersebut tampaklah bahwa dalam hubungan ini ajaran – ajaran Bhrama dan Budha itu, walaupun mengandung perbedaan – perbedaan dalam hal –hal kecil. Namun dalam bersesuaian juga tentang segi – segi pokoknya : dalam wilayah – wilayah yang berpusat pada pusat lingkaran dengan mengelilingi Gunung Meru. ( Robert Heine –Geldern, 1972 : 6 )

Sedangkan hubungan antara konsep kosmologi dengan perwujudan Negara sangatlah erat hungannya. Negara merupakan buah gambaran mikrokosmos dari jagad raya, dengan istana atau ibu kota kerajaan sebagai kosmis yang dianggap sebagai Gunung Meru Kerajaan tersebut, sedangakan Raja merupakan perwakilan dewa di jagad raya sebagai pemelihara dan pengelola jagad raya kecil itu ( mikrokosmos )

  1. Ibu Kota sebagai Pusat Magis dari Kerajaan

Ibu kota merupakan pusat pemerintahan bagi sebuah kerajaan selain itu ibu kota juga merupakan pusat politik, budaya serta tempat berdirinya istana sebagai tempat tinggal raja. Dalam konsep ini ibu kota merupakan perwujudan dari Gunung Meru dalam konsep mikrokosmos. Sehingga ibu kota merupakan pusat magis dari sebuah kerajaan. Hal ini merupakan bentuk cita pikiran kepercayaan Brahma dan Budha.

Penentuan ibu kota sebagai Gunung Meru yang merupakan pusat dari kerajaan berdasarkan letak geografis, karena letaknya dianggap berada di tengah – tengan Kerajaan sebagaiman Gunung Meru terletak di tengan – tengah kosmik. Setidaknya Gunung Meru di Ibu Kota akan memunculkan unsur magis dalam kerajaaan tersebut.

Tampaknya mula – mula bukit – bukit kecil lebih disukai untuk dijadikan wakil gunung tadi .( Robert Heine –Geldern, 1972 :7 )

  1. Tempat Ibadah / Candi sebagai Gunung Meru Mikrokosmos.

Tempat ibadah yang pada umumnya candi, baik penganut Bhrahma maupun Budha merupakan usaha penyelarasan alam semesta. Dalam berbagai prasasti – prasasti di Asia Tenggara terutama di Jawa candi juga merupakan wujud pemuliaan gunung. Candi disepadanakan dengan Gunung Meru sesuai gambaran kosmis dari jagad raya. Gunung tersebut muncul sebagai lambang alam semesta. Candi dan hiasannya ditafsirkan berdasarkan perlambang dari kosmologi tersebut.

Ketiga tingkatan candi mewakili triloka, yaitu perwujudan dari tiga dunia yang kesatuannya alam semesta. Kaki candi mewakili dunia manusia, dinamakan bhurloka. Tingkat di atasnya badan candi mewakili bhuvarloka atau dunia yang disucikan. Di tempat ini seseoarang berhubungan dengan Dewa dan Dewa dapat dapat menerima pemujaan manusia. Tingkat tertinggi, atap candi mewakili dunia dewa – dewa atau svarloka ( James dkk, 2002:59 )

  1. Peranan Kosmis dari Raja Istana dan Pemerintahan

Peranan kosmis dalam negara secara lebih rinci dapat dilihat pada bentuk penetapan gelar raja, upacara penobatan raja, Permesuri raja. Selain hal itu juga implemetasi dari konsep kosmis tersebut dilihat pada jumlah provinsi, daerah taklukkan, ataupun hal – hal yang berhubungan dengan Kerajaan. Dalam hal ini dapat diambil contoh adalah Kerajaan Birma dalam menetukan jumlah permesuri, gelar permesuri, dan kamar – kamar para permesuri itu.

Pada kerajaan Birma, dinyatakan bahwa seorang Raja memiliki empat orang permesuri utama dan empat orang permesuri tingkat bawahan .( Robert Heine – Geldern, 1972 :11 ). Semua itu berdasarkan pada jumlah mata angina yang ada, selain itu pada konsep kosmmologi Budha disebutkan pula bahwa jumlah empat merupakan jumlah dari benua kosmis tersebut. Lebih erat lagi dengan arah mata angina tersebut, bahwa nama – nama gelar permesuri tersebut juga berdasarkan nama mata angin juga.

Letak kamar permesuri pun juga merupakan usaha uintuk mewujudkan konsep kosmek tersebut. Dijelaskan bahwa kamar para permesuri Raja Kerajaan Birma melingkari kamar Raja. Selain melingkari juga kamar tersebut terletak pada empat arah mata angin yang ada. Seakan ingin menggambarkan tentang empat benua yang mengarah pada empat arah mata angin dan mengelilingi Gunung Meru yang puncaknya bersemayam Dewa Indra. Pada Kerajaan Birma Dewa Indra yang dimaksud adalah Raja itu sendiri.

Sir James George Scott menyatakan bahwa kegagalan Raja Thibaw (Raja terakhir Biram) yang tidak dapat memenuhi ketentuan yang telah ada itu dan berdasarkan konsep kosmik itu, memunculkan kegelisahan pada Rakyatnya. Kegelisahan ini dianggap lebih besar dibandingkan akibat dari penyembelihan karib – bait Raja yang dekat. Memeperlihatkan betapa pentingnya konsep kosmik itu .( Robert Heine –Geldern, 1972 :12 ).

  1. Perwujudan dan Legitimasi Raja sebagai Dewa.

Negara Kosmis seperti yang dijumpai pada segian besar wilayah Asia Tenggara kuna, sangat erat hubungannya dengan pola pikir tentang kedudukan raja yang dipercaya bersifat Dewa. Sifat –sifat kedewaan itu dilukiskan dalam berbagai cara, tergantung kepercayaan yang dianut. Kalau Hinduisme yang dianut, maka Raja diangap sebagai penitisan (ingkanasi ) dari dewa ataupun sebagai keturunan dari dewa ataupun kedua – duanya. Kebanyakan adalah Syiwa yang disangka menitiskan dirinya sendiri ke dalam tubuh Raja – raja atau yang memulai dinasti. Demikian dalam sebuah Prasasti Cam yang berasal dari abad ke – 9 seorang yang bernama Uroja membangun sebuah dinasti yang mengatasnamakan anak Syiwa.

Tetapi tidak pula Syiwa itu saja yang dianggap satu – satunya dewa yang beringkarnasi dalam diri Raja. Raja Airlangga dari jawa menganggap dirinya penitisan Wisnu. Monumen peringatannya memperlihatkan ia sebagai Wisnu yang mengendarai Garuda.

Selain penitisan yang di atas dikenal pula penitisan berganda. Hal ini terjadi pada Kerjaan Singosari awal. Ken Arok selaku pendiri dinasti mengagap dirinya sebagai inkarnasi dari Wisnu. Tetapi juga merupakan peranakan dari Brahma dengan seorang wanita fana, dan juga anak dari Syiwa. Sedangkan Raja Kertarajasa pendiri Kerajaan Majapahit di Jawa diabadikan dalam patung yang memperlihatkan Ia sebagai Halihara, yang merupakan perpaduan Wisnu dan Syiwa.

Perpaduan penitisan tidak hanya antara 2 dewa Hindu saja, tetapi ada juga yang menganggap dirinya segagai penitisan dari dewa – dewa Hindu dan Budha Mahayana. Hal ini layim terjadi di Jawa. Terutama Kerjaan Majapahit akhir yang menganut Tantrayana. Contohnya Kertanegara dipandang sebagai ingkarnasi dari Syiwa dan juga Dhani Budha Akshobhya.

Teori –teori tentang ingkarnasi dan penitisan merupakan usaha untuk alat legitimasi kekuasaannya. Selain itu juga merupan uasaha untuk meninggikan posisi seorang Raja. Lgitimasi tersebut juga merupakan bentuk pembenaran atas kesalahan – kesalahan yang dilakukan oleh raja tersebut.

PENUTUP

Menurut doktrin – doktrin brahma jagad raya ini terdiri dari jambudvipa, sebuah benua lingkaran dan terletak di pusat dikelilingi oleh tujuh buah samudra berbetuk cincin dan tujuh buah benua lain berbentuk cincin juga. Di luar samudra terakhir dari ketujuh samudra tadi, jagad itu ditutup oleh barisan pegunungan yang sangat besar. Di tengah – tengah Jambudvipa Meru, Gunung kosmik yang diedari oleh Matahari, Bulan dan Bintang – Bintang. Di puncak nya terletak kota dewa – dewa yang dikelilingi pula oleh tempat tinggal dari lokapala atau dewa – dewa penjaga jagad. ( Robert Heine –Geldern, 1972 :5 )

Sedangkan menurut susunan Budhisme – pun, Gunung Meru menjadi pusat dari jagad raya. Gunung ini selanjutnya dikelilingi oleh tujuh barisan pegunungan, masing – masing dipisahkan oleh tujuh buah samudra yang berbentuk cincin. Di luar rantai pegunungan yang terakhir terletak lautan dan di dalam ini dijumpai empat buah benua, masing – masing pad penjuru mata angin. Benua yang terletak pada selatan Gunung Meru adalah jambudvipa, tempat tinggal umat manusia. Jagad raya itupun dikelilingi oleh sebuah dinding besar yang terdiri dari batu –batu karang, disebut cakrawala. Pada lereng Gunung Meru terletak swarga yang terendah, yaitu swarga dari keempar Raja Besar atau penjaga – penjaga dunia, pada puncaknya swarga kedua , yaitu swarga ketigapuluh tiga dewa serta Sudarsana, kota dewa – dewa, tempat Indera bersemayam sebagai raja. Di atas Gunung Meru memuncak ke atas lapisan – lapisan lainnya dari kayangan . ( Robert Heine –Geldern, 1972 :5 )

Perwujudan dari penyelarasan hubungan antara Raja, Dewa dan Alam Semesta diwujudkan dalam sebuah konsep Makrokosmos dan Mikrokosmos. Makrokosmo dan Mikrokosmos adalam kepercayaan tentang kesejajaran antara jagad raya dan dua manusia ( Robert Heine – Geldern, 1972:2 ). Berdasarkan kepercayaan itu dapat diartikan bahwa manusia dan energi –energi yang ada di bumi dipengaruhi oleh arah mata angin, bintang – bintang dan planet – planet. Kedudukan ini tersebut mengakibatkan energi – energi yang dapat menentukan dan menghasilkan kesejahteraan serta kemakmuran suatu walayah kerajaan. Hubungan antara kedua hal tersebut juga menentukan kekuasaan seorang penguasa di suatu wilayah. Keselarasan antara kedua hal itu digunakan untuk menyusun keselarasan antara jagad raya dan kerajaan, penyelarasan itu berupa penataan kerajaan sebagai gambaran kecil dari jagad raya. Konsep penyelarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos di wujudkan dalam : hubungan antra negara dan jagad raya, ibu kota sebagai pusat magis dari kerajaan, tempat ibadah / candi sebagai gunung meru mikrokosmos, peranan kosmis dari raja istana dan pemerintahan dan perwujudan dan legitimasi raja sebagai dewa.

DAFTAR PUSTAKA

Fox, James, dkk ; 2002; ”Agama dan Upacara” ; Indonesia Haritage; Jakarta: Buka antar Bangsa

Hall, D. G. E ; 1988; Sejarah Asia Tenggara; Surabaya: Usaha Nasional.

Heine, Robert. Geldern; 1972; Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara; Jakarata: CV Rajawali.

Wasino, Drs. Dra Endah Sri Hartatik; 1997; Asia Tenggara Kuna; Semarang: t.p

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: